Asesmen Nasional Pengganti UN, Pahami Apa Saja Yang Diujikan! 

Asesmen Nasional Pengganti UN

Pastinya informasi tentang penghapusan Ujian Nasional tahun 2020 dan akan diganti pada tahun 2021 dengan Asesmen Nasional sudah banyak diketahui. Jika ujian nasional ditujukan untuk semua siswa yang berada di kelas terakhir sekolah, termasuk kelas 6, 9 dan 12, sekarang tidak demikian. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita, Pak Nadiem Makarim, tidak menginginkan pendidikan Indonesia didasari dengan gambaran bahwa ujian nasional sangat mengerikan bagi siswa-siswi. Sebaliknya, Pak Nadiem ingin tahu bagaimana meningkatkan yang terbaik dalam pembelajaran, pengajaran dan lingkungan akademik. Oleh karena itu, cakupan yang diadopsi adalah untuk mengganti ujian nasional dalam asesmen nasional.

Apa itu Asesmen Nasional?

Kini Asesmen Nasional yang dikutip Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, ujian ini tidak lagi mengevaluasi hasil karakter siswa-siswi, tetapi mengevaluasi dan memetakan perangkat pelatihan yang memasukkan proses, input, selain efek.

Dalam penilaian keterampilan minimal, yang akan diukur adalah keberhasilan siswa-siswi saat belajar dalam ranah kognitif, termasuk literasi dan matematika.

Mengenal Literasi dan Penomoran

Menurut National Institute for Literacy, literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, bahkan menghitung dan memecahkan masalah. Nah, sejalan dengan UNESCO, literasi tentu baik untuk semua orang dan juga ide yang harus dimiliki untuk belajar seumur hidup. Keterampilan literasi mampu memberdayakan dan meningkatkan kenikmatan individu, keluarga dan masyarakat.

Dengan demikian, kita akan menyadari bahwa literasi yang dimaksud adalah keterampilan yang melampaui hanya belajar dan menulis, tetapi mendorong siswa-siswi untuk memiliki kemampuan untuk meneliti melalui sarana untuk mempelajari kondisi atau hal-hal yang muncul di sekitar mereka, dengan pemecahan masalah terutama didasarkan pada apa yang mereka pelajari.

Sementara itu, matematika biasanya digambarkan sebagai keterampilan dan pengalaman seseorang dalam menggunakan berbagai angka dan lambang yang terkait dengan matematika dasar. Nah, keterampilan itu digunakan untuk mengatasi masalah sensitif yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, dengan penomoran, Anda juga dapat memeriksa fakta yang ditampilkan dalam berbagai bentuk, termasuk tabel, bagan, grafik, dan banyak lagi. Setelah memiliki kemampuan meneliti, karakter akan menggunakan terjemahan dari efek analisis, mengharapkan dan kemudian mengambil keputusan.

Hmm, sangat penting untuk menggunakannya sekarang, saat arus fakta mengalir begitu cepat dan membutuhkan keterampilan analitis yang sangat baik untuk mengklarifikasi dan mengetik fakta mana yang berguna, benar dan bagus, mana yang tidak bagus dan tidak berguna lagi.

Namun, menurut Pak Nadiem, keterampilan membaca dan menulis dan berhitung adalah keterampilan yang harus memiliki efek pada semua topik yang diajarkan melalui guru. Oleh karena itu, yang berspesialisasi dalam keterampilan literasi dan matematika, sekarang tidak lagi menyarankan untuk meremehkan pentingnya topik yang berbeda. 

Menurutnya, justru dengan literasi dan matematika, siswa-siswi bisa sangat terbantu dalam mengenal dan membaca berbagai bidang ilmu, khususnya untuk mempertanyakan dan mencerna fakta secara tertulis dan angka secara kuantitatif.

Jadi elemen kedua yang dikaji dalam Asesmen Nasional adalah survei individu. Penilaian survei individu dirancang untuk menilai keberhasilan siswa terutama berdasarkan hasil studi sosio-emosional, yang dapat berupa pilar individu untuk mencetak profil siswa Pancasila.

Karenanya, bagian ketiga yang diuji sebagai bagian dari asesmen nasional bisa menjadi survei lingkungan pendidikan. Hal ini bertujuan agar dapat menilai dan mengelompokkan aspek mana yang akan mendukung sistem pembelajaran di sekolah. Oleh karena itu, nantinya tidak hanya siswa yang dievaluasi, tetapi juga semua aspek yang mendukung pembelajaran. Dengan cara ini, Anda akan mulai mengevaluasi apa yang harus ditingkatkan dan sejauh mana hal itu dicapai.

Baca Juga : Pengertian Proposal Usaha dan Fungsinya Dalam Sektor Bisnis

Nah, jika UN hanya menilai tindakan siswa di setiap jenjang pascasarjana di tingkat universitas, seperti kelas 6, 9 dan 12, evaluasi nasional sekarang tidak fokus pada penilaian prestasi siswa. Oleh karena itu, sesuai jalinan yang dijelaskan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, asesmen nasional diterapkan pada siswa kelas 5 SD, 8 SMP dan 11 SMA.

Jika Anda memahaminya dengan benar, liputan baru ini benar-benar akan sangat memudahkan Anda untuk menambah pengetahuan. Tidak lagi hanya fokus pada topik sebagai cara yang baik untuk dicermati di akhir, tetapi eksplorasi yang lebih luas dapat dilakukan sebagai cara untuk mencapai konsekuensi yang diharapkan dalam asesmen nasional.

Untuk itu, sejauh ini penting untuk bisa mulai belajar, sekarang tidak lagi hanya dengan menjawab pertanyaan dan menghafal teori. Sebaliknya, mereka mulai mengkaji dasar-dasar berpikir, secara teratur mereview buku, melakukan pengamatan secara teratur dalam kehidupan normal, dan juga aktif berbicara dengan pengajar di sekolah, teman di sekolah, teman bermain, dll.

Tinggalkan Balasan