Mengenal Tradisi Rebo Wekasan, Mitos Hari Penuh Petaka

Mengenal Tradisi Rebo Wekasan, Mitos Hari Penuh Petaka

Salah satu tradisi umat Islam yang paling populer di seluruh nusantara adalah peringatan Rebo Wekasan. Tradisi Rebo Wekasan yang dilaksanakan pada akhir bulan Safar dianggap sebagai sarana mengusir sial. Rebo Wekasan mengacu pada Rabu terakhir bulan Safar. Bulan kedua dalam penanggalan Hijriah disebut Safar.

Kebiasaan ini berakar pada gagasan Islam tradisional bahwa bulan Safar adalah bulan sial. Hari sial dalam setahun dianggap sebagai hari Rabu terakhir dibulan Safar, yang dikaitkan dengan penyakit dan penderitaan.

Akibatnya, sebagian besar tradisi dan praktik yang diikuti umumnya bertujuan menolak bala. Diawali dengan dzikir bersama, berbagi makanan berupa gunungan dan keselamatan, dan diakhiri dengan doa-doa sunnah untuk mengusir bala.

Tahlilan, zikir berjamaah, shalat sunnah untuk menangkal bala dan berbagi makanan atas nama keselamatan adalah semua amalan Rebo Wekasan. Beberapa Muslim percaya bahwa Nabi Muhammad pertama kali jatuh sakit dan meninggal pada hari Rebo Wekasan di bulan Safar. Tradisi ini memiliki konotasi dan proses pelaksanaan yang berbeda-beda tergantung daerahnya.

Baca Juga : Tari Saman: Memahami Sejarah, Makna, Dan Gerakannya 

Sejarah Tradisi Rebo Wekasan

rebo wekasan

Tradisi Rebo Wekasan pertama kali dipraktikkan pada zaman Wali Songo, ketika banyak ulama percaya bahwa Allah menurunkan lebih dari 500 penyakit berbeda di bulan Safar. Banyak ulama mengabdikan diri untuk tirakatan, yang melibatkan ibadah dan doa yang intens, untuk memprediksi penyakit dan mencegah bencana. 

Maksud dari ayat-ayat yang diperkirakan diturunkan pada hari Rabu terakhir bulan Safar ini adalah untuk melindungi Allah dari segala penyakit dan bencana. Sebagian umat Islam di Indonesia masih mempertahankan tradisi ini hingga saat ini, yang dikenal sebagai Rebo Wekasan.

Tradisi ini diperkirakan sudah dimulai di Indonesia pada abad ke-17, menurut beberapa sumber. Khususnya yang terjadi di Sumatera dan Jawa adalah kebiasaan ini.

Adat ini dipraktekkan terutama oleh masyarakat pesisir pulau Jawa. Setiap daerah di Jawa memiliki keunikan tersendiri dalam merayakan hari ini. Yang lain berpendapat bahwa adat ini berasal dari periode Wali Songo. 

Banyak akademisi saat itu percaya bahwa Allah SWT telah mengirimkan ratusan penyakit selama bulan Safar. Tirakatan menjadi metode yang disukai para ulama untuk menentang bala bantuan saat itu. Adat tersebut telah bertahan sampai saat ini tetapi mengambil bentuk ritual yang berbeda.

Baca Juga : Mengenal Suku Tengger: Tradisi, Rumah Adat, Bahasa & Agama 

Tradisi Rebo Wekasan di Berbagai Daerah

sejarah tradisi rebo wekasan

Sebagian umat Islam mempraktekkan tradisi Rebo Wekasan di berbagai wilayah Indonesia. Tradisi ini dikenal dengan Makmegang di Aceh, dimana ritual dilakukan di pantai dengan berdoa bersama, dipimpin oleh seorang Tengku, dan diikuti oleh berbagai elemen warga Aceh, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat dan anggota masyarakat. 

Sedangkan tradisi Rebo Wekasan di Jawa biasanya dipraktikkan secara unik oleh masyarakat pesisir. Misalnya, tradisi yang berlangsung di Banten dan Tasikmalaya dengan menggelar salat berjamaah di awal Rabu terakhir bulan Safar. Sementara itu, Rebo Wekasan yang dipraktikkan di Bantul, khususnya Wonokromo, menghasilkan lemper berukuran besar yang dibagikan kepada warga atau pengunjung acara.

Sebuah tradisi berkumpul di laut diadakan di Banyuwangi untuk menghormati adat Rebo Wekasan, khususnya di Pantai Waru Doyong. Banyuwangi juga mempraktikkan tradisi Rebo Wekasan, yang melibatkan makan di atas nasi pinggir jalan yang disiapkan khusus. 

Sementara tradisi ini dikenal dengan Arba Mustamir di Kalimantan Selatan dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan membaca sunnah disertai doa menolak bala. Selain itu, ada keselamatan desa dengan tetap dekat dengan rumah, menahan diri dari pantangan dan mandi Safar untuk mengusir kemalangan. 

Baca Juga : 5 Tips Memulai Puasa Selama Bulan Ramadhan 

Mitos Bulan Safar

mitos bulan safar

Safar mengacu pada bahasa dan berarti “kosong”. Ungkapan ini mengacu pada praktik membersihkan tempat karena Safar adalah bulan perjalanan yang populer bagi orang Arab di masa lalu.

Safar pernah dianggap oleh orang Arab sebagai penyakit yang berhubungan dengan perut. Penyakit tersebut dikatakan sebagai sesuatu yang fatal. Safar dianggap sebagai bulan sial karena alasan ini.

Gagasan bahwa Safar adalah bulan sial hanyalah mitos belaka. Nabi Muhammad bahkan menantangnya, sebagaimana tercantum dalam hadits. Umat muslim didorong untuk melihat Rabu terakhir Safar sebagai hari berkah daripada buruk. Penciptaan cahaya alam semesta oleh Allah SWT pada hari Rabu juga disebutkan dalam sebuah hadits.

Demikianlah informasi mengenai Mengenal Tradisi Rebo Wekasan, Mitos Hari Penuh Petaka. Inilah berbagai adat Rebo Wekasan yang masih dilestarikan hingga saat ini di berbagai provinsi di Indonesia.